Tampilkan postingan dengan label Cuma Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cuma Tulisan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Desember 2009

Ceritakan pada Dunia Untukku

Ceritakan pada Dunia Untukku
Oleh: John Powell, S.J.

Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku
berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman.
Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy.
Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm dibawah
bahunya.
Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh ? sangat aneh.

Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat.
Dia terus-menerus mengajukan keberatan.
Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih.

Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan
agak sinis, “Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?”
Tidak,” jawabku dengan sungguh-sungguh.

“Oh,” sahutnya.

“Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan.”
Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil.
“Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya.
Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu.”

Tommy mengangkat bahu, lalu pergi.

Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku.
Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur.

Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah.
Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya.
Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi.

Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas.
“Tommy ! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?” tanyaku
langsung.
“Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi.”

“Kamu mau membicarakan itu?”

“Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?”

“Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?”
Jawabnya, “Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang ‘utama’ dalam hidup ini.”

Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku.
“Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah
Pastor.
Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya.
Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Pastor itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh.
“Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya”,
Tommy melanjutkan “dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan.
Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital,saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga.

Tapi tak terjadi apa pun..”

Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu.”

“Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting,” lanjut Tommy.
“Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka.

Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit: ayah saya.
“Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya.”
“Pa, aku ingin bicara.” “Bicara saja.”
“Pa, ini penting sekali.”
Korannya turun perlahan 8 cm. “Ada apa?”
“Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu.”
Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.
“Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku.
Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya.”

“Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah,” sambung Tommy.
“Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.

“Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya.”

“Tommy,” aku tersedak,

“Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih.”

“Tommy,” saya menambahkan, “boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?”

Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu.
Tentu saja, karena ia harus berpulang.
Ia melangkah jauh dari iman ke visi.
Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan.

Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.
Saya tak akan mampu hadir di kuliah Pastor,” katanya.
“Saya tahu, Tommy.”
“Maukah Pastor menceritakannya untuk saya?
Maukah Pastor menceritakannya pada dunia untuk saya?”
“Ya, Tommy. Saya akan melakukannya.”

Cinta Abadi

Such as a wonderful story.
Dahulu kala,langit dan laut saling jatuh cinta.
Mereka sama2 saling menyukai 1 sama lain. Saking sukanya laut terhadap
langit, warna laut = langit, saking sukanya langit terhadap laut, warna langit = laut.

Setiap senja datang, si laut dengan lembut sekali membisikkan “aku cinta padamu” ke telinga langit. Setiap langit mendengar bisikan penuh cinta lautpun, langit tidak menjawab apa2 hanya tersipu2 malu wajahnya semburat kemerahan.

Suatu hari,datang awan…begitu melihat kecantikan si langit, awan seketika itu juga jatuh hati terhadap langit. Tentu saja langit hanya mencintai laut, setiap hari hanya melihat laut saja.
Awan sedih tapi tak putus asa, mencari cara dan akhirnya menemukan akal bulus. Awan mengembangkan dirinya sebesar mungkin dan menyusup ke tengah2 langit dan laut, menghalangi pandangan langit dan laut terhadap 1 sama lain.
Laut merasa marah karena tidak bisa melihat langit, sehingga dengan gelombangnya,laut berusaha menyibak awan yang mengganggu pandangannya.Tapi tentu saja tidak berhasil.

Lalu datanglah angin, yang sejak dulu mengetahui hubungan laut dan langit merasa harus membantu mereka menyingkirkan awan yang mengganggu.

Dengan tiupan keras dan kuat, angin meniup awan …
Awan terbagi2 menjadi banyak bagian, sehingga tidak bisa lagi melihat langit dengan jelas, tidak bisa lagi berusaha mengungkapkan perasaan terhadap langit. Sehingga ketika merasa tersiksa dengan perasaan cinta terhadap langit, awan menangis sedih.

Hingga sekarang, kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan.
Kitabisa melihat di mana mereka menjalin kasih.
Setiap ke laut, di mana ada 1 garis antara laut dan langit,di situlah mereka sedang memadu kasih.

Anak Anjing

Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang papan iklan yang menaik bagi
anak-anak kecil, “Dijual Anak Anjing”.
Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya
“Berapa harga anak anjing yang anda jual itu?”

Pemilik toko itu menjawab, “Harganya berkisar antara 30 – 50 Dollar.”

Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping
uang, “Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing
yang anda jual itu?”

Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya.

Tak lama dari kandang aning munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang. Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu.

Tanyanya, “Kenapa dengan anak anjing itu?”
Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.

Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, “Aku beli anak anjing yang cacat itu.”

Pemilik toko itu menjawab, “Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu.”

Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata,
“Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu cuma-cuma padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 Dollar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga anak anjing itu.”

Tetapi lelaki itu menolak, “Nak, kau jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain sebagaiman anak anjing lainnya.”

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata,
Tuan, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya.”

Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya.
Ia tersenyum dan berkata, “Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau.”

Keep your fork

There was a young woman who had been diagnosed with a terminal illness and had been given three months to live. So as she was getting her things “in order,” she contact ed her pastor and had him come to her house to discuss certain aspects of her final wishes. She told him which songs she wanted sung at the service, what scriptures she would li ke read, and what outfit she wanted to be buried in.

Everything was in order and the pastor was preparing to leave when the young woman suddenly remembered something very important to her. “There’s one more thing,” she said excitedly.

“What’s that?” came the pastor’s reply.

“This is very important,” the young woman continued.
“I want to be buried with a for k in my right hand.”

The pastor stood loo king at the young woman, not knowing quite what to say.

“That surprises you, doesn’t it?” the young woman as ked.

“Well, to be honest, I’m puzzled by the request,” said the pastor.

The young woman explained. “My grandmother once told me this story, and from there on out, I have always done so. I have also, always tried to pass along its message to those I love and those who are in need of encouragement.

‘In all my years of attending church socials and potluck dinners, I always remember that when the dishes of the main course were being cleared, someone would inevitably lean over and say, ‘Keep your for k’ It was my favorite part because I knew that something better was coming … li ke velvety chocolate ca ke or deep-dish apple pie, Something wonderful, with substance!’ So, I just want people to see me there in that cas k et with a fork in my hand and I want them to wonder “What’s with the fork ?” Then I want you to tell them: “Keep your fork … the best is yet to come.” The pastor’s eyes welled up with tears of joy as he hugged the young woman good-bye.

He k new this would be one of the last times he would see her before her death.. But he also k new that the young woman had a better grasp of heaven than he did. She had a better grasp of what heaven would be li k e than many people twice her age, with twice as much experience and k nowledge. She KNEW that something better was coming.

At the funeral people were wal king by the young woman’s cas ket and they saw the pretty dress she was wearing and the for k placed in her right hand. Over and over, the pastor heard the question “What’s with the for k ?” And over and over he smiled.
During his message, the pastor told the people of the conversation he had with the young woman shortly before she died. He also told them about the for k and about what it symbolized to her.

The pastor told the people how he could not stop thin k ing about the fork and told them that they probably would not be able to stop think ing about it either.

He was right.

So the next time you reach down for your fork , let it remind you ever so gently, that the best is yet to come.

Friends are a very rare jewel, indeed. They ma ke you smile and encourage you to succeed. They lend an ear, they share a word of praise, and they always want to open their hearts to us.

Show your friends how much you care. Remember to always be there for them, even when you need them more. For you never know when it may be their time to “Keep your for k.”

Cherish the time you have, and the memories you share. Being friends with someone is not an opportunity but a sweet responsibility.

Beda BOSS dan Staff

Bila boss tetap pada pendapatnya, itu berarti beliau konsisten.
Bila staff tetap pada pendapatnya, itu berarti dia keras kepala !

Bila boss berubah-ubah pendapat, itu berarti beliau flexible.
Bila staff berubah-ubah pendapat, itu berarti dia plin-plan !

Bila boss bekerja lambat, itu berarti beliau teliti.
Bila staff bekerja lambat, itu berarti dia tidak ‘perform’ !

Bila boss bekerja cepat, itu berarti beliau ’smart’.
Bila staff bekerja cepat, itu berarti dia terburu-buru !

Bila boss lambat memutuskan, itu berarti beliau hati-hati.
Bila staff lambat memutuskan, itu berarti dia ‘telmi’ !

Bila boss mengambil keputusan cepat, itu berarti beliau berani mengambil keputusan.
Bila staff mengambil keputusan cepat, itu berarti dia gegabah !

Bila boss terlalu berani ambil resiko, itu berarti beliau risk-taking.
Bila staff terlalu berani ambil resiko, itu berarti dia sembrono !

Bila boss tidak berani ambil resiko, itu berarti beliau ‘prudent’.
Bila staff tidak berani ambil resiko, itu berarti dia tidak berjiwa bisnis !

Bila boss mem-by-pass prosedur, itu berarti beliau proaktif-inovatif.
Bila staff mem-by-pass prosedur, itu berarti dia melanggar aturan !

Bila boss curiga terhadap mitra bisnis, itu berarti beliau waspada.
Bila staff curiga terhadap mitra bisnis, itu berarti dia negative thinking !

Bila boss menyatakan : ” Sulit “, itu berarti beliau prediktif-antisipatif.
Bila staff menyatakan : ” Sulit “, itu berarti dia pesimistik !

Bila boss menyatakan : ” Mudah “, itu berarti beliau optimis.
Bila staff menyatakan : ” Mudah “, itu berarti dia meremehkan masalah !

Bila boss sering keluar kantor, itu berarti beliau rajin ke customer
Bila staff sering keluar kantor, itu berarti dia sering kelayapan !

Bila boss sering entertainment, itu berarti beliau rajin me-lobby customer.
Bila staff sering entertainment, itu berarti dia menghamburkan anggaran !

Bila boss tidak pernah entertainment, itu berarti beliau berhemat.
Bila staff tidak pernah entertainment, itu berarti dia tidak bisa me-lobby customer !

Bila boss men-service atasan, itu berarti beliau me-lobby.
Bila staff men-service atasan, itu berarti dia menjilat !

Bila boss sering tidak masuk, itu berarti beliau kecapaian karena kerja keras.
Bila staff sering tidak masuk, itu berarti dia pemalas !

Bila boss minta fasilitas mewah, itu berarti beliau menjaga citra perusahaan.
Bila staff minta fasilitas standar, itu berarti dia banyak menuntut !

Bila boss membuat tulisan seperti ini, itu berarti beliau humoris.
Bila staff membuat tulisan seperti ini, itu berarti dia :
- frustasi
- iri thd karir orang lain
- negative thinking
- provokasi
- tidak tahan banting
- barisan sakit hati
- berpolitik di kantor
- tidak produktif
- tidak sesuai dengan budaya perusahaan

Boss is always right, remember that…

WARNA PERSAHABATAN

Di suatu masa warna-warna dunia mulai bertengkar Semua menganggap dirinyalah yang terbaik yang paling penting, yang paling bermanfaat, yang paling disukai.

HIJAU berkata:

“Jelas akulah yang terpenting. Aku adalah pertanda kehidupan dan harapan. Aku dipilih untuk mewarnai rerumputan, pepohonan dan dedaunan. Tanpa aku, semua hewan akan mati. Lihatlah ke pedesaan, aku adalah warna mayoritas…”

BIRU menginterupsi:

“Kamu hanya berpikir tentang bumi, pertimbangkanlah langit dan samudra luas. Airlah yang menjadi dasar kehidupan dan awan mengambil kekuatan dari kedalaman lautan. Langit memberikan ruang dan kedamaian dan ketenangan. Tanpa kedamaian, kamu semua tidak akan menjadi apa-apa”

KUNING cekikikan:

“Kalian semua serius amat sih? Aku membawa tawa, kesenangan dan kehangatan bagi dunia. Matahari berwarna kuning, dan bintang-bintang berwarna kuning. Setiap kali kau melihat bunga matahari, seluruh dunia mulai tersenyum. Tanpa aku, dunia tidak ada kesenangan.”

ORANYE menyusul dengan meniupkan trompetnya:

“Aku adalah warna kesehatan dan kekuatan. Aku jarang, tetapi aku berharga karena aku mengisi kebutuhan kehidupan manusia. Aku membawa vitamin-vitamin terpenting. Pikirkanlah wortel, labu, jeruk, mangga dan pepaya. Aku tidak ada dimana-mana setiap saat, tetapi aku mengisi lazuardi saat fajar atau saat matahari terbenam. Keindahanku begitu menakjubkan hingga tak seorangpun dari kalian akan terbetik di pikiran orang.”

MERAH tidak bisa diam lebih lama dan berteriak:

“Aku adalah Pemimpin kalian. Aku adalah darah – darah kehidupan! Aku adalah warna bahaya dan keberanian. Aku berani untuk bertempur demi suatu kuasa. Aku membawa api ke dalam darah. Tanpa aku, bumi akan kosong laksana bulan. Aku adalah warna hasrat dan cinta, mawar merah,poinsentia dan bunga poppy.”

UNGU bangkit dan berdiri setinggi-tingginya ia mampu:

Ia memang tinggi dan berbicara dengan keangkuhan. “Aku adalah warna kerajaan dan kekuasaan. Raja, Pemimpin dan para Uskup memilih aku sebagai pertanda otoritas dan kebijaksanaan. Tidak seorangpun menentangku. Mereka mendengarkan dan menuruti kehendakku.”

Akhirnya NILA berbicara, lebih pelan dari yang lainnya, namun dengan kekuatan niat yang sama:

“Pikirkanlah tentang aku. Aku warna diam. Kalian jarang memperhatikan adaku untuk merepresentasikan pemikiran dan refleksi,matahari terbenam dan kedalaman laut. Kalian membutuhkan aku untuk keseimbangan dan kontras, untuk doa dan ketentraman batin.”

Jadi, semua warna terus menyombongkan diri, masing-masing yakin akan superioritas dirinya. Perdebatan mereka menjadi semakin keras. Tiba-tiba, sinar halilitar melintas membutakan.Guruh menggelegar. Hujan mulai turun tanpa ampun. Warna-warna bersedeku bersama ketakutan, berdekatan satu sama lain mencari ketenangan.

Di tengah suara gemuruh, hujan berbicara:

“WARNA-WARNA TOLOL, kalian bertengkar satu sama lain, masing-masing ingin mendominasi yang lain. Tidakkah kalian tahu bahwa kalian masing-masing diciptakan untuk tujuan khusus, unik dan berbeda? Berpegangan tanganlah dan mendekatlah kepadaku!”

Menuruti perintah, warna-warna berpegangan tangan mendekati hujan, yang kemudian berkata: “Mulai sekarang, setiap kali hujan mengguyur, masing-masing dari kalian akan membusurkan diri sepanjang langit bagai busur warna sebagai pengingat bahwa kalian semua dapat hidup bersama dalam kedamaian.PELANGI adalah pertanda Harapan hari esok.” Jadi, setiap kali HUJAN deras menotok membasahi dunia, dan saat Pelangi memunculkan diri di angkasa marilah kita MENGINGAT untuk selalu MENGHARGAI satu sama lain.

Personality

Coba aja…. buat tau ur personality… :)

1. Bentar lagi mau kiamat nih. Kalo kamu bisa nyelametin satu jenis binatang, binatang manakah yang beruntung?
a. Kelinci b. Domba c. Rusa d. Kuda

2. Kamu lagi maen ke Afrika, eh trus dipaksa bawa binatang pulang buat souvenir.
Kamu akan pilih:
a. Monyet b. Singa c. Ular d. Jerapah

3. Ceritanya kamu dikutuk sama Tuhan jadi binatang.
Kamu milih jadi apa?
a. Anjing b. Kucing c. Kuda d. Ular

4. Jika kamu diberi kekuatan untuk memusnahkan suatu spesies, spesies mana yang akan jadi korban?
a. Singa b. Ular c. Buaya d. Hiu

5. Suatu hari, kamu nemu binatang yang bisa bicara.
Kamu berharap binatang itu adalah:
a. Domba b. Kuda c. Kelinci d. Burung

6. Kalo kamu ada di pulau terpencil dan cuman bisa punya 1 teman, pilih yg mana:
a. Manusia juga b. Babi c. Sapi d. Burung

7. Andaikan kamu bisa bikin binatang buas jadi jinak, kamu akan pelihara:
a. Dinosaurus b. Harimau putih c. Beruang kutub
d. Leopard

8. Kalo kamu bisa jadi binatang selama 5 menit, mau jadi yang mana:
a. Singa b. Kucing c. Kuda d. Merpati

JAWABANNYA :

1. Pada dasarnya kamu tertarik dengan orang yang:
a. KELINCI – orang yang susah ditebak, contoh:
keliatannya cuek banget padahal aslinya super perhatian
b. DOMBA – patuh..dan ramah… (bulunya putih ya?? hehehheh)
c. RUSA – elegan dan sopan
d. KUDA – mereka yang tidak terkekang dan bebas

2. Dalam masa pendekatan, cara pendekatan yang paling
bisa bikin kamu jatuh hati:
a. MONYET – kreatif, ngga pernah bikin kamu bosen !
b. SINGA – to the point, langsung nyatain tanpa spik yang bebelit
c. ULAR – ulur… tarik… ulur lagi… tarik lagi…, layangaaaan kali
d. JERAPAH – sabar… tapi never give up.

3. Kesan yang pengen kamu kasih liat ke pacar kamu, bahwa kamu adalah orang yang:
a. ANJING – setia dan bisa dipercaya
b. KUCING – gaya
c. KUDA – optimis
d. ULAR – fleksibel

4. Situasi yang paling kamu benci, yang bisa jadi masalah dalam hubungan kamu:
a. SINGA – kesombongan pacar kamu dan sikapnya yang sok diktator
b. ULAR – emosional, moodmood-an, sehingga kamu ngga tau lagi musti gimana buat nyenengin dia
c. BUAYA – sadis (jangan diartikan secara fisik yah), berhati dingin,trus suka ngejek
d. HIU – insecure (apa yah bahasa indonya yang pas, ketidakamanan? ketidakstabilan? ketidakpastian?)

5. Hubungan yang pengen kamu jalanin dengan pacar kamu:
a. DOMBA – walaupun ngga ngomong tapi kalian saling tau isi hati masing2, dengan kata lain kalian tuh communicate by hearts
b. KUDA – saling terbuka, kebebasan mengungkapkan pendapat, ngga ada rahasia-rahasiaan
c. KELINCI – hubungan yang bisa bikin kamu selalu merasa nyaman dan saling mencintai
d. BURUNG – hubungan jangka panjang

6. Tentang perzinahan:
a. MANUSIA – kamu perduli dengan lingkungan dan moral, jadi kamu nggak akan macem-macem kalo nanti udah nikah(amieenn).
b. BABI – walaaahhh!! Kamu nggak bisa nahan godaan nih…
c. SAPI – sebisa mungkin sih kamu berusaha untuk tidak melakukannya
d. BURUNG – tidak stabil. Sebenernya kamu bukan orang yang cocok menikah dan membuat sebuah komitmen.

7. Pernikahan buat kamu:
a. DINOSAURUS – sedikit pesimis, kamu ngerasa sekarang
ini udah ngga ada tuh yang namanya happy marriage.
b. HARIMAU PUTIH – buat kamu pernikahan adalah sesuatu yang berharga dan setelah kamu married kamu bakalan ngejaga banget
c. BERUANG KUTUB – kamu takut akan pernikahan
d. LEOPARD – kamu pengen banget nikah, tapi sebenernya kamu juga nggayakin betul apa sih pernikahan itu?

8. Saat ini, kamu menganggap cinta adalah:
a. SINGA – kamu selalu haus akan cinta. Tapi bukan berarti mudah jatuh cinta, tapi selalu ingin dicintai.
b. KUCING – kamu sdikit egois. Kamu melihat cinta sebagai sesuatu yang mudah didapat dan dibuang kapanpun kamu mau.
c. KUDA – kamu engga mau dikekang oleh hubungan yang terlalu serius. Kamu masi pengen “gebet sana gebet sini”
d. MERPATI – cinta buat kamu adalah sebuah komitmen

Ketika Tuhan menciptakan para ibu…

Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya.
Kini giliran diciptakan para ibu.

Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut : “Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini ?”

Dan Tuhan menjawab pelan: “Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan ?

01) Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik.

02) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai

03) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya

04) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya.

05) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.

06) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan

07) Enam pasang tangan!! —

Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya “Enam pasa ng tangan….? tsk tsk tsk”

“Tentu saja ! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik….” balas Tuhan.

08) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.

“Bagaimana modelnya ?” Malaikat semakin heran.

Tuhan mengangguk-angguk. “Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya : “Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ ?”, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.
“Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke
belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata : “Saya mengerti dan saya sayang padamu”.

Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun. “Tuhan”, kata malaikat itu lagi, “Istirahatlah”
“Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai”

09) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.

10) Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.

11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi….

Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan.

“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.

“Tapi kuat”, kata Tuhan bersemangat.

“Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung,pikul dan derita.

“Apakah ia dapat berpikir ?” tanya malaikat lagi.

“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide dan berkompromi”, kata Sang Pencipta.

Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. “Eh, ada kebocoran disini”

“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan. “Itu adalah air mata…. air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata…., airmata….”

You are Everything To Somebody

You are Everything To Somebody Right now at this very minute

someone is very proud of you
someoneis thinking of you
someone cares about you
someone misses you
someone wants to talk to you
someone wants to be with you
someone hopes you aren’t in trouble

someone is thankful for the support you have provided
someone wants to hold your hand

someone hopes everything turns out all right
someone wants you to be happy

someone wants you to find them
someone is celebrating your successes
someone wants to give you a gift
someone think you ARE a gift
someone hopes you are not too cold, or too hot
someone wants to hug you
someone loves you
someone wants to lavish you with small gifts
someone admires your strength
someone is thinking of you and smiling
someone wants to be your shoulder to cry on
someone wants to go out with you and have a lot of fun
someone thinks the world of you
someone wants to protect you
someone would do anything for you
someone wants to be forgiven
someone is grateful for your forgiveness
someone wants to laugh with you about old times
someone remembers you and wishes you were there
someone is praising God for you
someone needs to know that your love is unconditional

somebody values your advice
someone wants to tell you how much they care
someone wants to stay up watching old movies with you
someone wants to share their dreams with you
someone wants to hold you in their arms
someone wants YOU to hold them in your arms
someone treasures your spirit
someone wishes they could STOP time because of you
someone praises God for your friendship and love
someone can’t wait to see you
someone wishes that things didn’t have to change
someone loves you for who you are
someone loves the way you make them feel
someone wants to be with you
someone is hoping they can grow old with you
someone hears a song that reminds them of you
someone wants you to know they are there for you
someone is glad that you’re their friend
someone wants to be your friend
someone stayed up all night thinking about you
someone is alive because of you
someone is remorseful after losing your friendship
someone is wishing that you would notice them
someone wants to get to know you better
someone believes that you are their soul mate
someone wants to be near you
someone misses your guidance and advice

someone values your guidance and advice

someone has faith in you

someone trusts you
someone needs you to send them this letter
someone needs your support
someone needs you to have faith in them
someone needs you to let them be your friend
someone will cry when they read this

CINTA ITU TIDAK TERLIHAT

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur? ketika kita menangis? ketika kita membayangkan ? . Itu karena hal terindah di dunia ini TIDAK TERLIHAT…

Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CINTA.

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan. Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan.. . Tapi ingatlah…melepask an BUKAN akhir dari dunia, melainkan awal suatu kehidupan baru. Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari…dan mereka yang telah mencoba. Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka…

CINTA yang AGUNG? adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya, adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia, adalah ketika dia mulai mencintai yang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu’.

Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI. Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya. tapi ketika cinta itu mati, kamu TIDAK perlu mati bersamanya.. .

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang, MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh. Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan, kamu belajar tentang dirimu sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada. HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan-pilihanan kehidupan yang telah kau buat.

TEMAN SEJATI… mengerti ketika kamu berkata ‘aku lupa..’,

menunggu selamanya ketika kamu berkata ‘tunggu sebentar’.

Tetap tinggal ketika kamu berkata ‘tinggalkan aku sendiri’.

Membuka pintu meski kamu BELUM mengetuk dan berkata ‘bolehkah saya masuk ?’.

MENCINTAI..BUKANlah bagaimana kamu melupakan, melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN.

BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu MENGERTI.

BUKANlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu RASAKAN.

BUKANlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana kamu BERTAHAN.

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati, dibandingkan menangis tersedu-sedu.

Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang.

Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang..

Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah, kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia dapat mencintai seseorang…

LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri.

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita,

MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING menyakiti hatimu

dan kadang kala, teman yang menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.

Smile from your HEART…

Cerita yang menyentuh hati manusia……..

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman,atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana.
Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.
Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama ‘Smiling”. Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.
Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas.

Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu ‘bau badan kotor’ yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil!

Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang ‘tersenyum’ ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang.

Ia menatap ke arah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.

Ia menyapa ‘Good day!’ sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.

Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah ‘penolong’nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan.

Lelaki bermata biru segera memesan ‘Kopi saja, satu cangkir Nona.’

Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu).
Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan.

Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat.

Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap ‘makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.’

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata ‘Terima kasih banyak, nyonya.’ Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata ‘Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.’

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata ‘Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ‘
Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampumemanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya,dan berucap ‘Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.’

Saya hanya bisa berucap ‘terimakasih’ sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke arah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap edua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya.

Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, ‘Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?’ dengan senang hati saya mengiyakan.
Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi.
Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir paper saya.

‘Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.’
Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi.
Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: ‘PENERIMAAN TANPA SYARAT.’

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI
HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!

Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya ’sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.
Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu!

Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak!
Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan
makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.

Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni.

Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.

Segala sesuatu yang kita alami dibuat untuk mendatangkan kebaikan bagi kita

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah,hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.

Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.

Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, “Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun.” Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib.
Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh.
Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal.
Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, “Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!” dengan amat bersyukur ia lalu pergi.

Diatas kayu salib, “Yesus” ingin sekali
memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib “Yesus” akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, “TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana.” Penjaga itu berkata, “Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?”

“Kamu itu tahu apa?”, kata Yesus. “Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan ka pal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut.”

Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan…

Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.

Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.

Sebab kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita. (Roma 8:28)

Garam & Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak.
Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet.
anak muda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, anak muda itu menceritakan semua masalahnya.
Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama.
Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.
“Uaasiiiin. uaassin sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum.
Ia, lalu mengajak tamunya ini,
untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.

Kedua orang itu berjalan berdampingan,
dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu.
Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air,
mengusik ketenangan telaga itu.

“Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu,
Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar.”, sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda.
Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

“Anak muda, dengarlah.
Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.
Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan,
akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.
Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya.
Itu semua akan tergantung pada hati kita.
Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup,
hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat.
“Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,
buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu
dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu.
Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”,
untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Forgiven, but not Forgoten

Forgiven, but not Forgoten !

Pernyataan itulah yang sering kita dengar.
Dan ini memang satu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri,
karena satu kebohongan besar apabila seseorang yang telah disakiti entah sekecil apapun juga;
bisa melupakan kejadian tersebut.

Hanya bedanya tidak melupakan
bukannya berarti harus di ingat terus menerus.

Apakah anda tahu,
bahwa pada umumnya kita akan lebih mudah
untuk dapat memaafkan seorang musuh,
daripada memaafkan orang yang kita kasihi.

Pada saat kita belum mampu memaafkan
otomatis kejadian-kejadian yang menyakitkan tersebut
akan selalu menghantui kita siang dan malam.

Tetapi setelah kita bisa memaafkan tidurpun bisa tenang
dan tidak akan terganggu lagi oleh mimpi2 buruk.

Memaafkan bukannya berarti harus melupakan kejadian tersebut
ataupun mengakui bahwa apa yang mereka lakukan itu benar !

Tidak sama sekali, yang salah tetap salah dan tidak bisa dibenarkan,
hanya bedanya pada saat kita; memaafkan berarti kita tidak mau mengingatnya lagi.

Enak aja, Gw yang disakiti selama bertahun-tahun, apakah harus dimaafkan secara begitu saja,
seperti juga pepatah panas setahun dihapus oleh hujan sehari !
Disinilah letak kesalahan pemikiran anda !

Keuntungan utama dari memaafkan, bukannya untuk orang yang bersalah kepada kita
melainkan untuk diri kita sendiri.
Melalui memaafkan kita dapat melepaskan seluruh beban sakit hati kita;
maupun stress yang membebani dan menyiksa diri kita selama ber-bulan2,
bahkan ber-tahun2.

Dengan memaafkan hati dan pikiran kita bisa jadi langsung plong lepas dari segala beban sakit hati ini !
Tanya saja sama diri sendiri,
apakah anda senang dengan adanya siksaan yang anda rasakan sampai dengan sekarang ini ?

Tiap kali teringat akan kejadian tersebut
sama seperti luka yang digarami dan diberikan cuka terus-menerus,
sehingga luka batinnya akan terasa nyeri terus
dan sampai kapanpun juga tidak akan bisa sembuh !

Obat mujarab dari luka batin yang benar2 cespleng hanya ada satu saja ialah:
Memaafkan!

Prinsip hidup yang saya pegang ialah:
saya tidak akan bisa merubah orang lain,
tetapi saya bisa merubah diri saya sendiri.
Saya tidak akan bisa merubah perasaan dari orang pernah menyakiti hati saya,
tetapi saya bisa merubah perasaan saya sendiri,
dengan memaafkan,
sebab memaafkan itu adalah pilihan.

Forgiveness Is a Choice,
memaafkan itu adalah pilihan yg hanya bisa ditentukan oleh Anda sendiri.
Bagi mereka yg tidak bisa dan tidak mau memaafkan,
maka mereka akan tersiksa,
karena pikiran dan batinnya akan selalu kotor,
disamping itu hubungan dgn yg bersalah pun akan selalu tetap buruk sehingga
luka batinnya hingga kapan pun juga tidak akan mungkin bisa dipulihkan lagi.

Lucu tapi nyata, kita bersedia mengorbankan segala-galanya mulai dari waktu hingga uang
untuk bisa sembuh dari penyakit jasmaniah,
tetapi sakit batin kita; tetap kita pelihara.
Padahal untuk bisa sembuh tidak perlu bayar entah berupa uang maupun waktu.

Orang yang dapat memaafkan kesalahan seseorang adalah orang yang baik,
sedangkan yang dapat memaafkan dan melupakan kesalahan seseorang adalah orang yang bijak,
tetapi orang yang dapat memaafkan dan melupakan kesalahan seseorang sebelum
orang tsb minta maaf adalah orang yang memiliki sifat illahi.

Hal ini telah dilakukan oleh Sang Penyelamat dan Guru Agung kita
dimana Ia berkata: Ya Bapa, ampunilah mereka,
sebab mereka tidak tahu apa yang telah
mereka perbuat.” (Lukas 23:34)

Dan juga Stefanus yang dapat mengampuni orang-orang yang membunuhnya.
“Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring:
“Tuhan janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!”
(Kisah 7:60)

————————————————

Ada sebuah cerita mengenai dua orang sahabat yang berjalan melalui gurun pasir.
Pada suatu kali dalam perjalanan itu, mereka bertengkar,
dan salah seorang dari mereka menampar pipi yang lain.

Orang yang mendapat tamparan terluka hatinya, tapi dengan tanpa mengatakan sepatah kata pun,
ia menulis di pasir: “HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPAR PIPIKU”.

Mereka melanjutkan perjalanan sampai menemukan sebuah oasis,
dimana mereka memutuskan untuk mandi di sana.
Waktu itu orang yang menerima tamparan dan sakit hatinya, tenggelam
dan temannya berhasil menyelamatkannya.
Setelah pulih dari rasa takutnya,
ia menulis di sebuah batu: “HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU”.

Teman yang telah menampar dan menyelamatkan sahabatnya, bertanya,
“Mengapa setelah saya menyakitimu kamu menulis di pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?”

Yang ditanya tersenyum dan menjawab:

“Saat seorang teman menyakiti kita, kita harus menuliskannya di pasir,
dimana angin maaf akan bertugas menghapusnya,

dan saat sesuatu yang hebat terjadi,
kita harus memahatnya di batu kenangan di hati, dimana tidak ada angin yang dapat menghapusnya.”

Belajarlah untuk menulis di pasir.